DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Tante Mona

Bursa Cerita Sex: Tante Mona - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Tante Mona, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Tante Mona
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Tante Mona

lihat juga

Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Menangqq Agen bandar judi Adu Q Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Tante Mona

Bursa Cerita Sex: Tante Mona
Bursa Cerita Sex: Tante Mona

Bucersex kali ini akan menceritakan cerita sex dari seorang remaja dengan tante cantik dan sexy beranak satu. Berawal dari berebut buku di toko buku, berakhir dengan hubungan Sex di sebuah Hotel. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Perkenalkan namaku Danny, aku seorang Pria berumur 25 tahun, aku adalah seorang Pria yang biasa-biasa saja menurutku, dengan berat badan 67 kg, tinggi badan 173 cm, bertubuh tegap dan bidang. Pada suatu hari, pada pukul jam 13.00 wib saat itu aku berada di sebuah toko buku Gramedia di jalan Gatsu (Gatot Subroto) jakarta. Aku di gramedia aku bermaksud untuk membeli majalah yang stocknya terbatas.

Pada hari itu aku mengenakan kaos dan celana pendek berbahan katun. Pada siang hari itu suasana toko buku itu sepi, waalaupun pada saat itu waktu jam istirahat para pekerja maupun para pelajar. Pada saat itu toko buku itu hanya ada pengunjung sekitar 10 orang, dan aku segera bergegas menuju rak yang berisikan khusus majalah. Ketika aku akan mengambil majalah tersebut, tiba-tiba ada seseorang wanita yang juga akan mengambil majalah yang sama.

Saat itu kami sempat saling berebut , namun setelah beberapa detik kamipun kemudian saling melepaskan pegangan kami dari majalah tersebut sehingga majalah itu-pun jatuh ke lantai, lalu, “ Ma.. Maaf yah Tante… ”, ucapku sembari mengambil majalah tersebut dan memberikannya kepada wanita separuh baya orang tersebut. Kalau aku melihat sekilas sih wanita itu berusia kisaran 32 sampai 35 tahun. Wanita separuh baya itu berwajah oval, mempunyai pandangan mata sinis, dan tinggi badannya hampir sama denganku karena dia memakai sepatu highhills. Pada saat itu aku tidak berani menatap wajahnya lama-lama, tapi pada saat itu mataku tertuju pada payudara-nya yang membusung montok dan bentuk tubuhnya yang bisa dibilang semok.

Kemudian wanita itu berkata,
“ Iya Dek, nggak papa kog, Adik cari majalah ini juga yah ?? ”, tanyanya.
“ Iya Tante, hhe… ”, jawabku singkat.
“ Ini majalah sudah lama saya cari Dek, giliran nemu eh.. sekarang malah berebut sama adek, hhe ”, ucapnya sembari tersenyum manis.
“ Hhe, nggak papa kog tante, kata Mbak penjual bukunya sih buku edisi ini sih limited edision Tante ”, ucapku menerangkannya.
“ Eumm… Ngomong-ngomong, kamu juga suka juga fotografi ya Dek ? ”, tanyanya.
“ Nggak juga sih Tante, saya beli cuma sekedar untuk koleksi saja kok… ”, ucapku.
Setelah itu kami-pun berbincang banyak tentang fotografi sampai pada akhirnya obrolan kami-pun berakhir.

“ Bun, bunda, Marsha udah dapet komik nih, Marsha beli’in 2 komik ini ya Bun ”, obrolan kami terpotong oleh seorang gadis cilik yang mengenakan seragam SD.
“ Ouh udah dapet ya Nak, yaudah, iya itu Bunda belikan 2 ”, ucapnya pada anaknya.
“ Oh iya dek Tante duluan ya dek ”, ucapnya sembari menggandeng anaknya pergi.
Pada akhirnya aku-pun mengalah dengan tante itu, dan pada akhirnya aku tidak mendapat majalah itu. yasudahlah, nggak dapet majalah nggak papa,toh aku masih bisa beli buku terbitan yang baru lainnya saja. Singkat cerita sekitar 30 menit kemudian ketika aku sedang asik membaca buku, dari belakangku ada yang menegurku, “ Duh yang lagi asyik baca bukunya nih… ”, tegur seorang wanita kepadaku.

Setelah aku menengok ternyata suara wanita itu adalah tante yang berebut buku denganku tadi, hhe. Tidak kusangka dia kembali lagi ke toko ini, dan kini dia tidak bersama anaknya. Kemudian aku berbasa-basi bertanya, “ Loh kog balik lagi sih Tante, memangnya ada ketinggalan Tante ? ”, tanyaku.
“ Nggak kog dek ”, balasnya singkat.
“ Ouh kirain. Ngomong-ngomong anak Tante dimana ? ”, tanyaku basa basi.
“ Anak tante les musik dek ” jawabnya.
“ Lah, memangnya anak tante berangkat sendiri ? ”, tanyaku lagi.
“ Nggaklah dek, anak tante di antar sama supir Tante ”, jawabnya menerangkan padaku.

Saat itu kami-pun melanjutkan pembicaraan kami yang sempat terputus tadi. kami membicarakan tentang fotografi cukup lama, sekitar 20 menit kami ngobrol sambil berdiri sehingga sampai kaki ini pegal dan tenggorokan-pun menjadi kering. Dari obrolan kami, pada akhirnya aku mengetahui nama beliau adalah Tante Mona. Karena saat itu kami sama-sama merasa haus dan capek, pada akhirnya Tante Mona-pun mengajak aku ke restoran fast food.

Restoran itu kebetulan letaknya berada di lantai bawah toko gramedia ini. Saat itu aku mendapat tempat duduk di dekat jendela dan Tante Mona di bangku sampingku. Karena aku dekat dengannya, saat itu terciumlah harum parfum dari tubuhnya yang tiba-tiba membuat Penisku ereksi. Saat itu aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat. Aduh bro, makin nggak kuat nih si otong, hha. Sering sekali lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin.

Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya, kena nih ni tante-tante, ucapku dalam hati. Pada akhirnya dia-pun mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut,

“ Yuk kita hangout aja yuk dari sini dek !! ”, ajaknya.
“ Eumm… emang kita mau kemana tante? ” tanyaku.
“ kemana yah, terserah kamu aja deh, tante nurut ”, ucapnya mesra.
“ Eummm… kemana yah tante, ngomong-ngomong tante tahu nggak tempat yang private biar kita ngobrolnya enak ”, ucapku.
Aku berkata seperti itu dengan maksud kesebuah hotel, motel atau semacamnyalah, hhe. Semoga saja Tante Mona mengerti maksudku,
“ Oh kamu maunya ditempat ngobrol Private, ya Tante tahu tempat yang private dan enak buat ngobrol, hhe…”, katanya sambil tersenyum.

Setelah itu kami-pun segera meninggalkan restoran itu. Saat itu kami pergi menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Kini hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.

Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Tante Mona yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Dari belakang aku mengesek-gesekan dengan perlahan burungku ke pantat Tante Mona, Tante Mona pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku.

Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Tante Mona dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya,
“ Hemmm… kamu nakal deh dari tadi dek, kini tante jadi nggak tahan nih ”, ucapnya genit.
Setelah itu Tante Mona-pun dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari resleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batang Penisku. Dia segera membalikkan tubuhnya, buah dada-nya yang berada di balik BH-nya telah membusung,
“ Ayo dong buka bajumu Dan ”, pintanya dengan penuh nafus dan kemesraan.

Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kejantananku yang sudah keluar dari CD-ku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tidak mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya. Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas.
Alhasil, taraaaaaaaaaa… terlihatlah buah dada-nya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya. Ketika CD-nya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang.

Kini Nafas Tante Mona semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya. Pada akhirnya mulutku sampai juga ke buah dada-nya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa bra-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk.

Tanpa buang waktu aku segera menikmati buah dada-nya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan. Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Tante Mona menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras.

Dan semakin ke bawah terlihat bulu kewanitaannya yang tercukur rapi, dan wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali. Kulihat Tante Mona segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat.
Tante Mona bergoyang maju mundur dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Tante Mona ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Tante Mona yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar.

Lalu kuhisap-hisap clitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Tante Mona menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya.

Kini segera kupersiapkan batang penis-ku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “ Zleb…”
Sayang sekali penisku belum masuk sepenuhnya, saat itu hanya ujung batang penis-ku saja yang masuk dan Tante Mona merintih kesakitan,
“ Aow… sakit sayang, pelan-pelan ya sayang ”, ucapnya lemah lembut.
“ Iya Ya deh Tante, aku masukin pelan-pelan, maaf ya tante ”, ucapku.
Kini akupun mengulangi lagi, dan masih tidak tidak masuk juga. Buset nih tante, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Akhirnya akupun menggunakan ludahku untuk untuk melumuri kepala penisku, lalu perlahan-lahan kudorong lagi kejantananku, dan “ Zlebbb… Aghhhhhhh.. pelan-pelan sayang… ”, erangnya kesakitan.

Padahal baru kepalanya saja, sudah ' masuknya. Kemudian aku menarik perlahan, dan lalu kumasukan lagi dengan perlahan. Pada saat itu aku mencoba menusukan kejantananku dengan agak keras, dan,
“ Zlebbbbbbbbbbbbb… Aoww… Sssss… Aghhhhhh…. ” erang Tante Mona diiringi air matanya yang menetes di sisi matanya.
“ Kog tante nangis sih, sakit ya, apa kita hentikan dulu ? ”, ucapku pada Tante Mona setelah melihatnya kesakitan.
“ Jangan Sayang, udah kamu terusin aja, Ssshhhh… ”, balasnya manja.
Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kewanitaanya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kewainitaanya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kewanitaaan kan kasar, terus menempel di batang penis-ku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Tante Mona yang ketat sekali. Dengan usaha tersebut, akhirnya mentok juga batang penis-ku di dalam liang senggama Tante Mona.

Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras. Setelah Tante Mona tenang, segera penisku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Tante Mona mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang senggama Tante Mona mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kewanitaanya sedikit berkurang.

Kira-kira sekitar 15 menit aku menggenjot vagina Tante Mona, tiba-tiba Tante Mona memelukku dengan kencang dan, “ Oughhhhhhhh….”, jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas. Ternyata Tante Mona sudah mendapatkan orgasme pertamanya, lalu, “ Tante udah keluar yah, yaudah kita break sebentar dulu aja Tante ”, ucapku.
“ Iya Danny sayang, tante ingin istirahat sebentar, tulang-tulang Tante terasa mau lepas rasanya ”, ucapnya dengan manja.
“ Baiklah Tante sayang, kita lanjutkan nanti aja… ”, balasku tak kalah mesranya.
“ Sayang, kamu sering ya ML sama wanita lain… ”, , pancing Tante Mona.
“ Nggak kok Tante malahan aku baru pertama kalinya sama tante ini ”, jawabku berbohong.
“ Masak sih, tapi dari caramu tadi terlihat kamu mahir sekali, Kamu hebat banget main sex-nya, benar-benar kuat ”, puji Tante Mona.
“ Ah tante bisa aja, tante juga hebat kog, liang senggama tante masih sempit banget sich, padahal kan Tante udah punya anak ”, balasku balik memuji.
“ Ah kamu bisa aja deh sayang, kalau masalah sempit dan mengimpit itu rahasia, hhe ”, balasnya manja.

Beberapa saat kami bercanda, kami-pun merasa lelah, dan tanpa sadar kami berdua tertidur pulas dengan posisi telanjang dan berpelukan. Kira-kira 1 jam kami tertidur, saat terbangun kami kaget, rupanya kami tertidur sudah lumayan lama. Sejenak kami mengumpulkan nyawa kami, lalu kami-pun melanjutkan permainan sex kami yang tertunda tadi. Kali ini permainan sex kami lebih buas dan liar, saat itu kami bercinta dengan bermacam-macam posisi sex.

Kini pada ronde 2 ini aku sangat senang sekali, karena pada permainan ronde 2 ini kami tidak menemui kesulitan seperti permainan sex pertama kami tadi. Hal itu disebabkan karena mungkin kami sudah sama-sama berpengalaman, dan saat itu liang senggama Tante Mona tidak sesempit yang pertama tadi. Mungkin saja karena tadi liang senggama Tante Mona sudah tertembus oleh keris empu gondrongku ini (penis).

Saat itu terjadilah permainan sex yang sungguh luar biasa liar dan hot. Namun permainan ini tidak berlangsung lama karena Tante Mona harus segera pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les musik. Saat itu akupun segera memompa kejantananku dengan tenaga penuh, dan kira sekitar 5 menit pada akhirnya penisku merasakan seperti ada yang akan menyembur, dan kemudian, “ Crotttttttttttttttttttt… Crotttt… Crottt… Crottt ”, Pada akhrinya aku-pun mendapatkan klimaksku. Saat itu aku menancapkan dalam-dalam kejantananku di dalam liang senggama Tante Mona. Air maniku membanjiri liang senggamanya sampai-sampai air maniku keluar lagi dari liang senggamanya itu. Singkat cerita karena Tante Mona terburu-buru, maka Tante Mona dan aku-pun segera memebersihkan diri di kamar mandi hotel. Setelah selesai, kamipun segera bergegas check out.

Namun sebelum kami berpisah kami saling bertukar alamat dan nomer handphone agar komunikasi kami berlanjut dan begitu juga hubungan terlarang kami ini. Setelah itu kamipun segera mencari taksi, dan pulang dengan taksi masing-masing. Selesai.


Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Tante Mona

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Tante Mona, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Tante Mona dan artikel ini url permalinknya adalah http://bursaceritasex.blogspot.co.id/2017/11/bursa-cerita-sex-tante-mona.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Tante Mona"

Post a Comment